Malam ini aku terbangun dari tidurku, dan entah kenapa saat terbangun dari tidur tersebut, mata ini terasa sulit untuk terpejam sehingga membuat aku susah untuk melanjutkan tidurku lagi, walaupun sebenarnya aku sangat lelah dikarenakan aktivitasku yang padat sejak pagi hingga sore harinya. Disaat mataku sulit untuk dipejamkan kembali, aku berpikir untuk menyalakan komputer dan membuka akun Facebookku dengan harapan siapa tahu ada teman yang bisa ditemani chating.
Halaman Beranda Akun facebookku pun telah terbuka, kulihat ada beberapa teman yang telah update status. Mulai dari status yang lucu... yang berisi motivasi... yang mengkritik kinerja pemerintah... yang ucapin selamat beristirahat, dan lain-lain. Tetapi malam ini aku lagi enggan untuk mengomentari beberapa status teman tadi. Aku lebih memilih untuk menyapa teman yang kebetulan online pada saat itu, Namun sebelumnya aku melihat dulu siapa saja teman yang berulang tahun hari ini dan tentunya akan menuliskan ucapan selamat ulang tahun pada dinding fb mereka.
Kulihat, ada sebuah nama dan 7 orang lainnya yang berulang tahun. Akhirnya aku kunjungi bagian tersebut untuk melihat siapa saja ketujuh orang teman yang dimaksud. Dan ketika nama-nama itu tampil semua, sungguh aku sangat terkejut ketika kulihat bahwa salah satu dari ketujuh orang teman fbku yang berulang tahun hari ini adalah anakku...
Ya... anakku...Putra ketigaku yang dikaruniahi oleh Allah dari perkawainanku dengan belahan jiwaku yang kini berstatus sebagai istriku itu. Seandainya aku tidak membuka fb, aku pasti lupa kalau setiap tanggal 15 November adalah hari ulang tahunnya. Seketika itu pula aku beranjak dari hadapan komputerku dan langsung ketempat tidurku tadi untuk memeluk serta mencium anakku itu yang entah kenapa malam ini ingin tidur bersamaku....
Begitu lelap tidurnya sampai-sampai dia tidak merasakan betapa erat aku memeluk dan menciumnya berkali-kali. Setelah puas dengan memeluk dan menciumnya, kini kupandangi wajahnya yang masih polos itu sambil kuusap kepalanya. Ada senyuman yang tersungging dari bibirku saat itu karena rasa banggaku akan dirinya... tetapi ada pula air mata yang membasahi pipiku oleh rasa haru karena teringat masa kecilku dulu disaat Ayahku melakukan hal yang sama kepadaku.
Saat masih tetap kupandangi wajahnya itu, saat itu pula aku teringat akan sebuah puisi yang pernah ditulis oleh seorang sastrawan yang namanya sangat terkenal didunia hingga membuat aku dan istriku memberikan namanya itu kepada anakku ini.
“Anakmu Bukanlah Anakmu”...
Demikian Judul puisinya itu. Sebuah puisi yang membuat aku tersadar bahwa jangankan harta benda, bahkan anak yang merupakan darah daging kita sendiri ternyata pada hakikatnya adalah Titipan Allah semata, atau dengan kata lain anak adalah amanah yang diberikan Allah pada kita yang harus kita pelihara serta menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Mereka terlahir melalui kita, tetapi mereka bukan berasal dari kita.
Mereka berada pada kita, tetapi mereka bukan milik kita
Mereka wajib mendapatkan kasih sayang dari kita, tetapi jangan pernah memaksakan pikiran kita pada mereka, sebab mereka mempunyai alam pikiran tersendiri.
Mereka berada pada kita, tetapi mereka bukan milik kita
Mereka wajib mendapatkan kasih sayang dari kita, tetapi jangan pernah memaksakan pikiran kita pada mereka, sebab mereka mempunyai alam pikiran tersendiri.
Kita patut memberikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kita kunjungi sekalipun didalam mimpi kita.
Kita boleh berusaha menyerupai mereka, tetapi jangan pernah berusaha membuat mereka menyerupai kita, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur ataupun tenggelam ke masa lampau.
Kita laksana busur dan mereka laksana anak panah, yah....anak panah yang hidup dan siap melesat pergi.
Bila sang pemanah membidik sasaran keabadian, maka dia akan merentangkan kita dengan kuasa-Nya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Maka bersukacitalah kita sebagai busur ditangan sang pemanah, sebab dia mengasihi pula anak-anak panah yang melesat laksana kilat itu sebagaimana mengasihi kita sebagai busur yang mantap.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini sepuluh tahun sudah usianya. Berarti sepuluh tahun juga Allah telah menitipkan amanah itu kepada aku dan istriku.
Malam ini tiada kado yang paling istimewa yang dapat kuberikan padamu, melainkan do’a yang kupanjatkan kepada Ilahi semoga kamu kelak menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuamu...
Makassar, 15 November 2014
Selamat Ulang Tahun Anakku
“Hilman Ahmad Gibran Putra Alamsyah”
Tetta sangat mencintai dan menyayangimu
“Hilman Ahmad Gibran Putra Alamsyah”
Tetta sangat mencintai dan menyayangimu


0 komentar:
Posting Komentar